LSG – Bab 3

Hmmmm, I need to increase my translating ability. I need superb herb potion.


Bab 3 – Kemunculan Putri

Suguimu kehilangan kata-kata melihat kemampuan Suyun untuk bernegosiasi. Meski Keluarga Suguimu sangat berpengaruh, mereka masih memiliki banyak musuh. Jika percakapan ini terdengar, musuhnya bisa saja menurunkan posisi keluarganya. Suguimu tidak ingin mengambil risiko.

Tapi sekarang, kasino tidak memiliki rencana cadangan untuk mengatasi hal ini.

Dengan cepat Suyun pulang ke rumahnya untuk memulai kultivasinya menggunakan bahan-bahan yang baru saja ia beli.

Meski kultivasinya tidak tinggi, pengalamannya selama bertahun-tahun di dunia lamanya memberi dia banyak keuntungan. Sekarang dia mempunyai pemahaman yang dalam akan teknik kultivasi.

Untuk memperbaiki meridiannya, dia hampir meneliti semua bidang. Pehamahamannya tentang tubuh manusia melebihi kultivator kawakan.

Terutama dalam pengobatan, Suyun bisa saja dianggap sebagai master. Dalam kehidupan lamanya, dia berkeliling dunia dan berlatih dengan banyak kultivator ulung dan dokter-dokter untuk menyembuhkan kondisinya. Bertahun-tahun kerja kerasnya tak bisa dianggap remeh.

Walaupun bakat kultivasinya rendah, Suyun masih memiliki tingkat pemahaman dan kemampuan belajar yang mengesankan.

Namun, peningkatan kultivasi tidak bergantung pada kemampuan belajar. Tubuhnya masih belum tersembuhkan.

Tapi itu adalah masalahnya bertahun-tahun kemudian. Saat ini, dia telah mengetahui cara untuk memperbaiki kondisinya. Dia akan menggunakan obat herbal untuk cepat mengobati dirinya, jadi dia bisa memulai latihan kultivasinya.

Setelah kondisinya kembali normal, bakatnya juga akan kembali.

Ini adalah pikiran Suyun dalam hatinya.

Namun, ketika ia mendekati pondoknya, terdengar suara belasut yang samar.

Suyun melirik ke arah datangnya suara. Dia melihat sebuah kereta mewah, yang ditarik oleh kuda jantan dengan tubuh berwarna ungu dan sebesar sapi dengan dua tanduk yang besar.

Kuda ungu tersebut memancarkan aura hebat, terlihat tubuhnya penuh dengan energi, sebanding dengan hewan roh yang melegenda. Kuda jantan ini sangat loyal dan hanya mengakui satu orang tuan selama hidupnya. Kuda ini katanya mampu menarik kereta seberat 400 kg dengan mudah. Dia bisa menjadi kuda yang menarik kereta, juga memberi perlindungan saat dibutuhkan. Maka dari itu, kuda jantan ini harganya sangat mahal, yang hanya kaum bangsawan mampu membelinya.

Suyun melirik tanda kuning yang ada pada kereta dan langsung mengetahui siapa yang datang.

Suyun melanjutkan langkahnya ke pondok dengan membawa bahan-bahan miliknya.

Krieek.

Pintu pondok itu terbuka perlahan.

Di belakang meja yang usang, ada seorang pak tua dengan rambut putih yang duduk dan menyisip teh dari cangkir.

Suyun melihat pak tua tersebut, lalu melihat kereta kuda mewah yang ada di luar, matanya terguncang sedikit dan segera menutup pintu.

“Su Gongzai, lama tak jumpa, bagaimana kabarmu?”

Pak tua itu berdiri dan menyapa Suyun dengan hormat.

“Tuan Bai (baca: pai) melihat keadaanku yang memalukan seperti ini, apa yang ingin Anda bicarakan? Anda yang menemuiku secara langsung pasti ada sesuatu yang penting bukan?”

Suyun berkata seiring menaruh bahan-bahannya di lantai.

Melihat bahan-bahan yang ditaruh Suyun, Pak Bai tampak ragu, tapi tidak menanyakan tentang bahan itu, malahan dia langsung menyatakan tujuannya, “Hari ini, hanya ada satu hal yang ingin kubahas.”

“Katakanlah.”

Suyun memberinya senyuman, menunggu responnya.

Pak Bai dengan lembut mengambil amplop putih dan menaruhnya di meja.

“Ini adalah perkamen yang bernilai tiga puluh ribu koin sukma, yang bisa di terima di bank mana pun di prefektur ini.”

Dia melanjutkan, “Hari ini, aku datang untuk menyampaikan pesan dari Nona kepadamu. Nona telah dipuja oleh Keluarga Jiang (baca:ciang) dan dianggap sebagai ahli waris. Aku khawatir calon jodohnya bisa jadi orang lain, jadi aku ingin kau membatalkan perjodohanmu dengannya. Surat ini adalah … kompensasimu.”

Suyun menunduk terdiam.

Sepertinya Marga Bai (baca:pai) telah datang.

Marga Su dan Marga Bai sebanding satu sama lain, tapi Perguruan Jiang lebih kuat. Mereka memiliki ratusan ribu sekte dengan berbagai pengaruh yang melebihi kedua keluarga.

“Tuan Putri dari Marga Bai sangatlah berbakat, yang sepadan dengan bakat tak tertandingimu yang sebelumnya. Tetapi, sekarang kautelah kehilangan segalanya dan Tuan Putri Marga Bai masih dengan bakatnya yang hebat. Jadi, intinya adalah pembatalan perjodohan di antara kalian. Suyun, sekarang kau tidak memiliki apa-apa, bakat, status dan yang lain, bagaimana mungkin Tuan Putri Marga Bai menjadi pengantinmu?”

Suyun membuka sekantong bahan yang baru ia beli, dan berkata, “Ambil kembali uang itu!”

Wajah Pak Bai berubah menjadi dingin, “Kau tidak setuju?”

“Aku setuju.” Jawab Suyun dengan datar dan tenang, sembari melanjutkan, “Bagaimanapun juga, untuk membatalkan perjodohan ini, kita membutuhkan orang yang terlibat langsung di dalamnya untuk memintanya sendiri.”

Setelah Pak Bai mendengar perkataan Suyun, keterkejutan muncul di wajahnya. Sejenak ia pikirkan, mengangguk dan keluar dari pondok itu.

Ia segera menuju keretanya dan pergi ke bagian jendela. Lalu pak tua itu memberi hormat.

Setelah beberapa saat, korden dari sulaman sutra terbuka dan terlihat perempuan berpakaian kuning terang lengan panjang turun dari keretanya.

Perempuan itu terlihat cantik. Dia memiliki wajah yang sempurna, berbentuk badan yang seimbang antar pundak dan pinggang, kulitnya putih krim anggrek, serta mata seperti permata. Dia memunculkan pesona yang alami. Dia adalah perempuan yang bisa membuat laki-laki di sekitarnya untuk menyayanginya.

Dia perlahan menuju pondok, jika dilihat secara seksama, terlihat sebilah pedang yang tersembunyi di balik sulaman lengan bajunya.

Kriek.

Pintu terbuka.

Terdapat Suyun di dalam, yang sedang menyiapkan bahan yang ia beli untuk kultivasinya. Dia bahkan tidak melirik orang yang memasuki pondoknya sama sekali.

Baiyan (baca: Pai Yan) tidak marah.

Menurutnya, Suyun mungkin menyembunyikan perasaannya.

Pemuda yang ada di hadapannya memegang daging jantung harimau di atas meja dan mulai menggunakan pisau untuk membuat lubang kecil. Lalu dia mengambil darah serigala dan memasukkannya ke lubang jantung harimau tersebut.

Apa yang ia lakukan?

Dia tidak mengertim juga tidak terlalu peduli.

“Aku ingin membatalkan perjodohan ini.”

Suara yang jelas dan merdu melayang di udara, seperti angin lembut.

Setelah mengatakannya, dia menatap Suyun dan menunggu jawabannya.

Akan tetapi, tidak ada perubahan dalam ekspresi Suyun, dia bahkan tidak mengerutkan dahi.

“Baiklah.”

Sepatah kata terdengar. Sangat datar dan tidak menimbulkan riak sama sekali.

Baiyan terkejut.

Dia tidak mengerti mengapa Suyun bahkan terlihat senang.

“…. Kau yakin?”

Dia tidak yakin, dan menanyakannya.

“Ya.”

Ekspresi Suyun tetap datar.

Alis Baiyan meruncing.

Dia tidak mengerti, tapi dia merasa bahwa yang ada di hadapannya tidak seburuk rumor yang beredar. Dia juaga tidak terlihat seperti pemabuk atau pejudi. Mengapa rumor dan kenyataan berbeda jauh?

Yah, lupakan.

Lalu dia menaruh secarik amplop di atas meja.

“Ambil kembali uang itu!” Teriak Suyun.

“Kau tidak membutuhkannya?” Tanya Baiyan.

“Ya.” Suyun menjawab.

“Kenapa? Apa kau ingin menjaga harga dirimu di depanku?” Baiyan tidak tahan untuk menghinanya, “Aku dengar kau berutang banyak uang pada Suguimu, dan uang berjudimu semakin berkurang. Bukankah cukup jika kau gunakan tiga puluh ribu ini untuk melunasi utangmu?”

“Bukan kesombongan dan keangkuhan, tapi prinsipku. Perbuatanku telah melanggar prinsipku, jadi aku harus berubah.” Ujar Suyun.

“Baik, karena kau bersikeras menolak, aku harap kau tidak menyesal!” Baiyan mengambil kembali uang itu dan pergi ke luar.

“Tunggu.”

Tiba-tiba Suyun berkata.

Baiyan merasa heran dan membalikkan badannya, “Ada yang ingin kausampaikan lagi?”

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal.”

“Baik, katakan.”

“Aku harap kau tidak menyesalinya.”

Suyun selesai.

Tapi di telinga Baiyan, dia tidak terkesan.

Dia tidak mengatakan apa-apa dan berbalik pergi. Dia tidak memasukkan dalam hati kata-kata terakhir yang didengarnya.

Roar!

Setelah beberapa saat, sang kuda jantan ungu mulai bergerak dan keretanya menjauh.

Hati Suyun tetap tenang, karena ini hanyalah peristiwa kecil yang ada di hidupnya. Tidak berpengaruh padanya. Bahkan di pengalaman lamanya, dia sudah lupa akan Marga Bai.

Dia bahkan tidak peduli dengan perempuannya sendiri, bagaimana mungkin ia peduli dengan Baiyan?

Suyun menggelengkan kepala dan mulai mengerjakan jantung harimau di mejanya. Dia melanjutkan sampai darah serigala hitam meresap di jantung tersebut. Diulanginya bagian ini seperti mesin ….

Setelah seharian bekerja, dia berhenti dan pergi ke ranjangnya.

Jika dia tidak bisa menyembuhkan penyakitnya, berkultivasi tidak ada gunanya. Satu-satunya jalan adalah secepatnya mencari cara menyembuhkan kondisinya.

“Cepat! Cepat! Bajingan, beraninya dia menipuku! Kalian semua harus menggunakan kekuatan penuh dan menghajar bocah ini! Hari ini kita akan menghajarnya sampai mampus!”

Sesaat ketika Suyun akan tidur, suara nyaring terdengar dari luar. Lalu, dia mendengar, serbuan langkah kaki menuju pondoknya.

Suyun terbelalak, melompat dari ranjangnya dan melihat keluar.


Sebelumnya || Selanjutnya