Limitless Sword God – Bab 1

Brand New Project, selain untuk menyalurkan hobi, juga untuk mengasah kemampuan berbahasa inggris.

Dan setelah ini (entah kapan) akan muncul kotak “donate us” via paypal di samping kanan, dan itu juga masih menunggu pembuatan kartu visa/mastercard baru yang gw belom punya, lolz.

It’s me Ashura.

Kategorinya Xianxia ( Jalan menuju Keabadian ), dan ini termasuk Chinese Web Novel. Jadi nanti banyak istilah jurus2 dan nama tingkatan kultivasi yang tentunya perlu asah otak buat nentuin nama yang pas.


Tuan Muda Sampah dan Pelayan Phoenix

Pada sebuah malam yang dingin. Di dalam pondok lusuh, sebuah lilin menyala berkelip.

Di dalam pondok yang sederhana dan sesak, hanya terdapat sebuah tempat tidur dan kursi. Di dekat ranjang, ada seorang gadis muda dengan pakaian seragam putih polos, serta pandangan penuh lara pada pemuda yang berbaring di atas ranjang.

Si pemuda, dengan wajah pucatnya dan mata birunya yang terpejam, sedang terbaring dalam keadaan koma.

Brak!

Tiba-tiba pintu kamar terbuka keras.

Seorang lelaki tampan dengan postur yang tinggi berdiri di depan pintu.

“Nona, dia mungkin sudah mati! Aku akan mempersiapkan pesuruh untuk membereskan mayatnya. Waktu kita terbatas, ayo kita pulang ke rumah. Jika tuan besar mengetahui Anda belum kembali, saya dan nona akan menerima hukuman.”

“Tidak, aku tidak akan pulang. Aku akan berada di sini dan menemani tuan muda,” jawab gadis itu. Sembari tubuhnya merebah ke dada si tuan muda dan menangis.

“Apakah kau sudah lupa akan tanggungjawabmu? Cepat ikut denganku,” ucap si lelaki sembari mengerutkan kening.

“Tuan muda mengalami musibah. Lagi pula, apa yang bisa aku lakukan di rumah? Tuan muda telah memberiku sebuah rumah dan merawatku sejak kecil, dan sekarang ia sendirian, bagaimana bisa aku meninggalkannya?” Gadis itu berkata dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.

“Kau…” Emosi tampak di wajah lelaki tersebut, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa.

“Ahh–”

Seketika itu, suara erangan terdengar dari seseorang yang berbaring ranjang.

Gadis itu terkejut dan berhenti menangis, dan cepat-cepat memperhatikan wajah pucat si pemuda yang mulai membukakan matanya.

“Apa dia sadar?”

Kedua orang yang ada di dalam ruangan terkejut.

Sebenarnya, Suyun sudah sadarkan diri. Namun, ia mengalami sakit kepala yang parah, jadi seluruh tubuhnya terasa lemah sampai-sampai ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.

Meskipun suara tuannya sangat aneh, gadis itu masih mengenalinya. Sang gadis mendengarkan dengan seksama kepada setiap kata yang akan diucapkan oleh tuannya.

“Qing Er? Benarkah dia itu Qing Er? Tidak mungkin! Qing Er sudah mati … tapi suara ini … tidak salah lagi.”

(*Kata imbuhan Er dalam bahasa mandarin, digunakan kepada mereka yang sudah kita kenal dengan dekat.– Ashura)

Suyun berusaha mengingatnya; dan dia akhirnya ingat kejadian dari masa lalu, emosinya meledak.

“Tuan muda …,” Qing Er yang tertegun sejenak, lalu berkata, “Alhamdu Syukurlah! Anda sudah sadar!”

Suyun perlahan membuka matanya, dan hanya bisa melihat wajah gadis rupawan yang menyapanya.

Wajah gadis itu sempurna. Ia mempunyai mata yang berkilau seperti intan permata, bibir merah ceri, dan kecantikan sederhana namun sempurna yang bisa menarik perhatian siapapun.

Umurnya sangat muda, sekitar lima belas atau enam belas tahun, tapi tubuhnya aduhai, dengan dada yang terlihat subur. Akan tetapi, terlihat bahwa dia masih kanak-kanak, karena terdapat air mata di wajahnya.

Suyun sangat bersimpati padanya, dan dengan serius ia memperhatikannya.

“Qing … Er? Apa itu kau?” Suyun tidak percaya.

“Benar … tuan, ini aku!” Qing Er memegang tangan tuannya yang membeku. “Tuan, Anda baru saja terkena musibah. Setelah mendengarnya, saya bergegas kemari. Bagaimana perasaan tuan? Apa sudah baikan? Apakah ada yang masih sakit?” Qing Er bertanya dengan penuh peduli.

“Aku?”

Suyun melihat dirinya sendiri, bingung.

“Apa yang terjadi? Orang yang familiar; kejadian yang familiar. Bukankah ini adalah pondok kecil yang Qing Er tinggali? Bukankah ruangan ini sudah terjual? Selain itu, bukankah Qing Er sudah ….

Suyun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ditambah lagi, kepalanya terasa semakin pusing.

Setelah meminum obat, dan bertarung secara langsung dengan *murid sukma menengah, dia masih hidup! Hmph! Intinya sekarang dia masih jadi gembel menyedihkan,” Ucap dalam hati lelaki yang berada di samping Qing Er.

(–masih bingung mau ngasih julukan hmmm–Ash)

“*Ling Xuan Shi?” Suyun tak bisa mengingat apa pun, karena ingatannya masih tak jelas.

(–I fucking ga ngerti artine–Ash)

Suyun memegangi kepalanya, “Sakit sekali … ini … ingatanku kelihatannya semakin pudar.”

Sepertinya luka di kepalanya sangat serius,” bisik lelaki tampan itu dalam hati.

“Luka dari murid sukma menengah dalam tubuh Anda pasti belum sembuh total. Minumlah obat dan istirahatlah, dan Anda pasti sembuh dalam beberapa hari.” Kata Qing Er.

Suyun yang sedang memandangi wajah menawan Qing Er, serasa hatinya terluka, dan dia tiba-tiba memegang erat tangan Qing Er, dan menolak untuk melepasnya.

“Tu-Tuan .…” Qing Er terkejut.

Secara reflek dia akan melepaskan tangan itu, tetapi hatinya ingin tetap seperti ini. Momen ini menciptakan suasana romantis antara keduanya.

Si lelaki tampan itu emosinya meledak. Dengan cepat ia memisahkan tangan Qing Er dan menghujat, “Kurang ajar! Suyun! Dasar bajingan! Beraninya menyentuh Qing Er! Aku akan menebasmu sampai mati!”

Lalu lelaki itu tanpa basa-basi berusaha memenggal kepala Suyun dengan senjatanya.

Klang!

Seketika pedangnya mendekati Suyun, sebuah pancaran energi sukma menyambar dari arah Qing Er. Lelaki itu langsung terhentak dan dengan paksa harus menggunakan kekuatan sukmanya sendiri untuk menahan pancaran energi tersebut.

“Mosha, apa yang kaulakukan? Dia adalah tuanku! Kenapa kaumau mencelakakannya?!” Qing Er berteriak dengan lantang.

“Tuan? Hanya kau yang menganggapnya tuan! Semua orang bahkan hanya menganggapnya sebagai sampah, terutama keluarga besar. Kau masih peduli padanya? Jangan lupa, kau adalah anak berbakat dalam keluarga besar, tapi dia adalah sebaliknya. Dia ini … secepatnya kau harus memutus semua hubunganmu dengannya!”

“Tuan selalu merawatku! Aku tidak akan meninggalkannya sama sekali,” Qing Er berkata dengan menggigit bibirnya.

“Kau harus mengerti situasinya. Lihat sampah ini; Umurnya delapan belas tahun, dan bahkan dengan tujuh pusaka, dia masih tidak bisa mencapai alam sukma! Dia juga tidak pernah berpikir tentang latihan. Selain mabuk-mabukan, pasti dia berjudi. Apa bedanya dia dengan kotoran?

Aku dengar kalau kau menjadi pelayannya sampai sering dipukuli. Bagaimana mungkin kau masih punya perasaan padanya?! Sekarang dia adalah orang biasa! Kau dan dia ada di dunia yang berbeda. Mengerti?!” Mosha menceramahi dengan nada keras.

“Kau … jangan menjelek-jelakkan tuanku!” Wajah Qing Er memerah karena kemarahannya yang memuncak, “Menyingkir dari hadanku!” Imbuhnya.

“Cepatlah kembali ke keluarga besar,” Jawab Mosha.

“Jika kau takpergi, aku tidak akan pergi dari sini,” jawab Qing Er.

“Kau … baik! Dasar bodoh!” Lelaki itu hanya bisa menurut dan melangkah keluar dari dalam ruangan.

Brak!

Pintu tertutup dengan keras.

Keheningan pun kembali menyelimuti ruangan.

Seperti badai yang telah berlalu.

Emosi Qing Er sedikit mereda. Sejenak, dia kemudian berdiri dan melihat ke jendela untuk memastikan Mosha pergi. Setelah yakin bahwa tidak ada orang lagi, dia cepat-cepat mengambil kantong abu-abu dari ikat pinggangnya dan menaruhnya di bawah selimut Suyun.

Akan tetapi, saat tengah melakukannya, ada tangan yang menyambar lengannya.

Dengan terkejut, Qing Er melihat Suyun yang menatapnya dengan penuh keheranan.

“Apa ini?” Tanya Suyun.

“Uang,” Bisik Qing Er, ia takut jika ada orang lain yang bisa mendengar suaranya.

Setiap bulan, Qing Er akan mengirim uang pada Suyun untuk kebutuhan hidupnya.

“Darimana kau mendapatkan uang ini?”

“Bukankah Mosha memberitahu Qing Er tadi? Keluarga besar akan memperlakukan mereka yang berbakat dengan baik, seperti memberi uang. Karena aku tidak pernah menghabiskannya, aku selalu menyisihkannya untuk Suyun.”

Qing Er menundukkan kepala dengan ekspresi gelisah sembari menjelaskan.

“Kau payah saat berbohong,” Suyun berkata dan menggelengkan kepalanya, “300 adalah uang bulananmu, tapi kau pasti memberikan semuanya padaku bukan?”

Keheranan tampak pada raut wajah Qing Er.

“Bagaimana mungkin tuan bisa tahu?”

“Hari apa ini?” Suyun bertanya.

“Wangsa Baru, 3 Maret 1001.”

Begitu mendengarnya, Suyun langsung terdiam.

“Tuan, ada … apa?” Qing Er bertanya dengan penuh kebingungan.

Secara mendadak tubuhnya dipeluk dengan erat oleh Suyun.

“Qing Er, maafkan aku.” Pinta Suyun.

Itu hanyalah kalimat sederhana, tetapi telah menghilang selama lima belas tahun.

Qing Er benar-benar kehilangan kata-kata. Dia tidak pernah menyangka tuannya bisa seperti ini, bagaikan ia telah menjadi orang yang berbeda.

Setelah beberapa saat, ia berkata dengan lembut, “Tuan, apa pun yang terjadi, Anda harus hidup. Bukan hanya untuk istrimu, tapi untuk dirimu juga. Anda harus kuat, oke?”

Suyun menjawabnya dengan mengangguk.

Senyum cerah tampak pada wajah Qing Er, ia lalu berbalik dan pergi keluar.

“Tuan, sekarang sudah larut. Aku akan segera mencarikan dokter sukma untuk mengobati Anda. Aku harus cepat kembali ke rumah utama. Kali ini kepala keluarga sedang ada urusan, jadi dia sedang tidak ada di rumah. Aku menyelinap keluar, bahkan jika aku terpergoki, aku tidak takut; tapi aku khawatir akan keadaan tuan, jadi … Qing Er harus segera pergi. Ambillah uangnya dan mungkin bisa Anda gunakan untuk membeli pakaian atau makanan.”
“Tidak, Qing Er, ambillah. Mulai sekarang, jangan mengirimkanku uang lagi.” Suyun menggenggam kantung uang dan pada Qing Er.
Qing Er terkejut sembari menangkap kantung uangnya, “Apakah uang ini tidak cukup?”
“Tidak, aku hanya sudah muak hidup seperti ini.”

Qing Er merasa sangat heran ketika memerhatikan tuannya.

“Qing Er, sekarang cepatlah kembali!”

“Tu … Tuan, apa ini tidak apa-apa?”

“Yah.”

“Tapi .…”

“Cepat pergi! Jika kau berada di sini lebih lama lagi, bisa jadi kepala keluarga akan mengetahui dan akau akan terkena masalah.”

Qing Er menggigit bibir merah muda gelapnya.

“Kalau begitu …. Tuan, jika Anda membutuhkan sesuatu, segera beritahu aku. Kita akan menghadapi segala sesuatu bersama, apa pun yang terjadi, Qing Er akan selalu bersama tuan.”

“Tidak masalah!”

Sejenak Qing Er merasa ragu, lalu dia melangkah mundur dan pergi dari pondok.

Suyun menarik nafas panjang. Sembari melihat lilin yang berkelip, jantungnya mulai berdegup kencang.

Brak!

Sejenak kemudian, pintu kembali terbuka dengan keras.

Namun, yang terlihat bukan Qing Er, melainkan lelaki muda, Mosha.

“Kaumasih belum pergi?” Tanya Suyun.

“Aku mengantarnya pergi. Aku khusus kembali lagi hanya untuk menasehatimu.” Jawab Mosha dengan tatapannya yang tajam ke arah Suyun.

“Apa yang ingin kaukatakan?” Suyun bertanya.

“Hanya beberapa hal.” Mosha menjawab.

“Katakanlah.”

“Baiklah. Meski Qing Er adalah anak dari ibumu, Qing Er sangat berbakat dan suatu saat pasti akan memainkan peran penting dalam Marga Su. Ada jalan terjal dan panjang yang harus dilaluinya. Ditambah lagi, jodohnya sudah ditentukan. Sekalipun dia menganggapmu orang tua, kau yang tak berguna, yang bahkan bukan lagi anggota keluarga besar. Lihat dirimu sendiri. Apa bedanya antar kau dengan sampah? Lihat dia, yang hampir mencapai Cabang Phoenix! Jangan berharap seekor katak bisa menyamai seekor angsa!”
(—-Yah, sebuah pribahasa orang china, artikan sendiri—Ash).

Suyun terdiam.

“Sadarlah!” Mosha mengejek, seraya hendak pergi.

“Aku ingin bertanya sesuatu.” Ucap Suyun tiba-tiba.

Mosha berhenti dan membalikkan tubuhnya.

“Perkawinan Qing Er karena dipaksa, tapi apa hubungannya dengan campur tangan Cabang Langit?

Mosha memunculkan ekspresi kaget. “Bagaimana kau bisa tahu?!”

“Apakah ini rahasia?”

“Tidak juga, tapi saat ini, Qing Er pun tidak tahu! Aku yakin kau pasti pernah mendengar tentang Cabang Langit, tempat orang-orang terkenal berada. Sudahlah, jangan ganggu nona lagi! Jika tidak, kauakan menyesal. Dan jangan menyebut nama Cabang Langit lagi. Marga Su tidak akan membiarkanmu! Tidak ada tempat di mana pun untukmu!”

Setelah selesai, Mosha pun pergi.

Suyun terbaring di ranjangnya.

Sebelumnya, setelah sadarkan diri, ingatannya masih pudar; tapi sekarang semuanya sudah jelas. Baru saja, penjelasan Qing Er dan Mosha telah meyakinkannya akan hal yang mengganjal di hatinya.

Dia telah berreinkarnasi.

Menurut ingatannya, Qing Er sudah tiada.

Sejak umur sepuluh tahun Syun sudah dianggap sebagai anak jenius yang bisa mencapai tingkat lima. Pada waktu itu, bahkan Qing Er tidak sepadan dengannya. Suyun dan Qing Er selalu diawasi oleh keluarga besar sebagai generasi paling menjanjikan bagi keluarga.
Namun, setelah tahap kelima, bakat Suyun menghilang. Selama delapan tahun berlalu, kemajuan dalam kultivasinya hanya sebatas tingkat enam.

Dampaknya, Suyun sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian, dan akhirnya terabaikan.

Selanjutnya, karena dianggap mempermalukan orang tuanya, ia diusir dari rumah, yang menyebabkannya semakin terpuruk dan hidup penuh depresi.

Kebiasaannya mabuk-mabukan dan berjudi membuatnya kehilangan segalanya. Di lain sisi, bakat Qing Er terus berkembang, yang menyebabkannya mencapai alam berikutnya sehingga bisa secara langsung masuk keluarga besar. Dan Suyun yang sudah berusia delapan belas tahun, akan melakukan tes kekuatan, yang pada akhirnya masih pada tingkat enam.

Sesuai dengan Peraturan Marga Su, dia dibuang ke sekte terluar dan kehilangan seluruh hak istimewa keluarganya. Marga Su memang selalu kejam. Dengan kata lain, yang kuat yang bertahan hidup.

Karena alasan inilah, ia meninggalkan rumahnya dan melampiaskan kekesalannya pada pelayan keluarga.

“Semua itu adalah pengalamanku sebelumnya; tapi ini adalah dunia baru, jadi semuanya sudah digariskan.”

Marga Su ingin menduduki tingkat Cabang Sekte Langit, jadi mereka merencanakan perjodohan menggunakan Qing Er. Dengan bakat dan pesona yang dimilikinya, dia tidak kekurangan pengagum dan iri hati keluarga lain.

Kehidupan asmara Qing Er memang bukan urusan Suyun, tapi Qing Er selama ini menolak dengan perjodohannya.

Tapi apa yang bisa ia lakukan? Perjodohan telah dibuat, hanya sebagai alat politik untuk mempererat hubungan antara Marga Su dan Cabang Sekte Langit. Qing Er yang melihat tidak adanya hal yang bisa dirubah, dia memutuskan mengunjungi Suyun untuk yang terakhir kalinya; namun Suyun sedang berada di kedai minuman, mabuk untuk menghilangkan kepedihannya, jadi dia kehilangan perpisahannya.
Qing Er memutuskan untuk melarikan diri, tapi pada akhirnya, dia tidak bisa menghindar. Cabang Sekte Langit marah besar dan mengeksekusi Qing Er.

Suyun ingat kejadian tersebut tepat pada Wangsa Baru, 9 Mei 1005.

Setelah Qing Er tiada, Cabang Sekte Langit membuat alibi bahwa Qing Er meninggal karena penyakit, yang Suyun percayai sementara. Akan tetapi, dia kemudian mengetahui dari pembicaraan para tetua, kebenarannya.

Oleh karena itu, Suyun bangkit dari keterpurukannya.

Tidak ada yang mengiriminya uang lagi setiap bulan, tidak ada yang membatu berawatnya ketika sakit, dan tidak ada yang akan peduli padanya.

Suyun yang kehilangan, merasa berutang kepada Qing Er. Jadi dia memutuskan untuk balas dendam.

Tapi, bagaimana mungkin Cabang Sekte Langit bisa semudah itu ditangani? Bagaimana mungkin dia dibandingkan dengan para ahli dalam alam sukma atas. Itu hanyalah sebuah ilusi, tetapi Suyun tidak menyerah. Dia meninggalkan Marga Su untuk berkelana mengelilingi dunia. Dia mencari seorang yang ilmunya tinggi untuk berguru kepadanya, jadi dia bisa menyembuhkan kondisinya dan mematangkan hati dan pikirannya.

Meski begitu, banyak orang yang tercengan akan masalah kenapa dia tidak bisa mencapai tingkat tujuh. Bahkan guru ahli pun angkat tangan.

Oleh sebab itu, Suyun semakin nekat. Pada akhirnya dia memilih jalan terlarang. Dia menyelinap ke benua iblis, mencuri pusaka sukma dan bahkan nekat berkonfrontasi dengan Sekte Rumo. Alhasil, dia akhirnya menemukan bahwa darah manusia bisa diganti dengan darah iblis.

Tetapi kenyataannya sangat kejam. Meski darahnya sudah terganti, kondisi Suyun masih sulit untuk terobati. Suyun tidak punya jalan lagi di bawah seluruh lapisan langit.

Karena dia telah megambil jalan terlarang. Akan tetapi masih ada kesempatan untuk menjadi seorang ahli tingkat dunia.

Yang menjadi penyebab Suyun tiba-tiba kehilangan bakatnya karena ia mengidap penyakit aneh.
Orang dengan cacat sukma ini akan mengalami penyakit langka. Penyakit ini sangatlah langka, sehingga sulit untuk terdeteksi. Namun, jika dapat dideteksi, mengobatinya tidak terlalu sulit.

Pada saat ia sedang menjalani pengobatannya, sebuah kesempatan bagus untuk menyerang Cabang Sekte Langit muncul. Meski waktunya sangat tepat, dia kekurangan waktu untuk menyembuhkan penyakitnya. Ketika ia menghadapi kedua pilihan ini, ia sudah tidak sabar lagi, karena menunggu penyakitnya sembuh butuh waktu satu dasawarsa lagi.

Dia berkata pada dirinya sendiri, “Sekarang semuanya telah, berbeda!”

Sebelum dia menjalankan pembunuhannya, dengan cermat ia susun siasat. Ia berencana akan menggunakan pusaka untuk memenggal pengurus Sekte Langit, lalu menggunakan kekuatan pusakaa untuk menghancurkan Cabang Sekte Langit.

Akan tetapi, Suyun meremehkan kekuatan pengurus Cabang Sekte Langit. Dalam pertempurannya, Suyun terbunuh.

Setelah terbunuh, kesadarannya kembali pada dirinya lima belas tahun lalu. Dia kembali saat sebelum Qing Er kabur dari Marga Su; tiga tahun empat haru setelah dia diusir dari rumahnya.

“Dewa telah memberiku kesempatan kedua.” Suyun berbisik.

Sebuah sumpah muncul dalam hatinya.


 Selanjutnya